Tantangan Modernitas, Sebuah Refleksi Singkat

Sebagai masyarakat, hal apa saja sih yang kita pikirkan ketika mendengar istilah modern? Mungkin seringnya, benak kita tertuju pada hal-hal yang identik dengan teknologi, industri, perkotaan, bahkan fashion dan budaya populer yang terkesan ‘up to date’. Semua itu benar, namun itu semua merupakan hal-hal yang sekedar ‘tampak’, dan pernahkah kita bertanya tentang hal yang lebih dalam atau substansial tentangnya? Hal yang lebih filosofis darinya dan lebih dari apa yang sekedar ‘tampak’?

Dalam perkembangannya, modernitas mengacu pada semangat pergantian sejarah, dari masa lalu yang dinilai kolot dan irasional, menuju masa depan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemajuan dan rasionalitas. Rasionalitas inilah yang sangat dijunjung tinggi dalam semangat modernitas kala itu.

Atas dasar rasionalitas, mereka mulai meninggalkan mitos dan tradisi yang tidak sesuai dengan semangat perkembangan zaman, untuk menuju pada kehidupan masyarakat yang serba rasional. Karena mitos dan tradisi masa lalu dinilai hanya  akan menghambat orang-orang untuk berpikir secara mandiri dan bertindak secara otonom.

Modernitas kemudian memunculkan narasi atau ‘cita-cita sejarah’ yang disebut ‘grand narrative’, yaitu paham filosofis tentang sejarah umat manusia yang akan berkembang menuju suatu totalitas tertentu, dimana seluruh umat manusia akan hidup secara damai ketika mereka mengenal nilai-nilai rasionalitas dan ilmu pengetahuan.

Namun, cita-cita yang utopis inilah yang kemudian dikiritik oleh filsuf postmodern sebagai narasi yang secara substasial mirip dengan mitos-mitos masa lalu, karena cita-cita yang terlalu utopis tersebut hanya akan memunculkan tendensi totaliter untuk menghalalkan segala cara dalam mencapainya. Filsuf postmodern menganggap bahwa cita-cita modernitas yang menjunjung tinggi rasionalitas itu justru menciptakan ‘irasionalitas’-nya sendiri.

Modernitas tidak bisa dipisahkan dengan kapitalisme yang terbukti mengeksploitasi masyarakat kelas bawah, dengan industrialisasi yang menciptakan alienasi dan penyakit jiwa bagi manusia, dan dengan kolonialisme yang secara arogan telah menindas bangsa-bangsa lain untuk memaksakan nilai-nilai modernitas yang utopis.

Saat ini, kita dihadapkan dengan tantangan modernitas yang begitu besar, dan tidak ada pilihan lagi selain bersedia diri menghadapi tantangan tersebut. Demi hal ini, kita dituntut untuk selalu bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan yang relevan sebagai berikut.

Apakah teknologi yang seharusnya kita pakai demi memudahkan kehidupan kita justru menyita kehidupan kita seluruhnya dengan virtualitas palsunya?

Apakah kebijakan kita dalam mengambil sumber daya alam justru mengeksploitasi bumi yang kita tinggali ini?

Sudahkah kita menyelamatkan orang-orang di sekitar kita, teman-teman kita, anak-anak kita dari bahaya alienasi dan kegilaan modern?

 

Oleh: M. Fadhlan Maulana

Referensi: Afifi, I. (2019). Senjakala Modernitas. Yogyakarta: IRCiSoD.

Sumber Ilustrasi: https://www.linkedin.com/pulse/paradox-progress-our-quest-modernity-threatening-cultural-patel

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *