BIOGRAFI SYEKH JAMIL JAHO (1875-1940)

BIOGRAFI SYEKH JAMIL JAHO (1875-1940)

 

Jaho adalah sebuah daerah kecil yang terletak di bukit Tambangan, antara wilayah perbatasan Aceh, Padang Panjang, dan Tanah Datar, Minang Sumatera Bara. Daerahnya sejuk dan asri, penduduknya bersahaja, dan hidup secara rukun dan damai. Di tengah daerah yang indah itu, lahirlah seorang ulama yang sangat kharismatik. Beliau adalah Syaikh Muhammad Jamil Jaho, yang kerap dipanggil Buya Jaho, atau Inyiak Jaho, atau Angku Jaho. Nama beliau demikian dikenal dan dikenang oleh banyak masyarakat Minang.

 

Syekh Muhammad Jamil Jaho lahir di Jaho, Tambangan, Padang Panjang, Hindia Belanda, 1875 – meninggal 1940 pada umur 65 adalah seorang ulama Minangkabau yang ikut mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah Perti. Beliau  termasuk ulama yang mengadakan pembaharuan pendidikan surau, tetapi termasuk golongan ulama Kaum Tua yang bersikap menolak terhadap ijtihad yang sebebas-bebasnya dan mempertahankan taqlid pada ulama-ulama terdahulu. Muhammad Jamil Jaho lahir pada tahun 1875 di Jaho, Tambangan, Padang Panjang. Ayahnya ialah Datuk Garang, suku Guci, yang pernah menjadi qadi Tambangan, sedangkan ibunya bernama Umbuik.

Muhammad Jamil mula-mula belajar agama dari ayahnya sendiri. Ketika beranjak remaja, Beliau belajar pada Syekh Al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang, kemudian pada Syekh al-Ayyubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Ketika belajar pada Syekh Al-Ayyubi ini Muhammad Jamil bertemu dengan Sulaiman Ar-Rasuli, yang di kemudian hari juga menjadi ulama terkenal di Minangkabau. Keduanya kemudian melanjutkan belajar ke Biaro Kota Tuo, kemudian kepada Syekh Abdullah Halaban, yang terkenal dalam fikih dan ushul fikih. Di perguruan Syekh Halaban inilah Muhammad Jamil dipercaya untuk membantu sebagai pengajar dan diajak mengunjungi pengajian-pengajian di berbagai tempat oleh gurunya tersebut.

Pada tahun 1908, Muhammad Jamil menunaikan ibadah haji ke Mekkah sekaligus menuntut ilmu agama. Beliau menikah dahulu sebelum berangkat dengan gadis Tambangan yang bernama Saidah, dan keduanya memiliki dua putri Samsiyyah dan Syafiah.

Dimakah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi mazhab Syafi’I adalah guru Muhammad Jamil saat di Mekkah, dan Abdul Karim Amrullah ayah dari Buya Hamka juga pada saat belajar pada syekh tersebut. Keduanya murid tersebut selain belajar juga ditugaskan Syekh Ahmad Khatib untuk membimbing murid-murid lainnya. Muhammad Jamil di Mekkah juga belajar pada Syeikh Alwi al-Maliki mazhab Maliki dan Syeikh Mukhtar al-Affani mazhab Hanbali.

Setelah 10 tahun belajar di Mekkah, Syekh Muhammad Jamil lalu kembali ke Padang Panjang, dan kemudian menjadi ulama yang disegani di sana. Selama di Makkah beliau menikah dengan Zulkaikha keturunan Sicincin, Padang Pariaman tetapi beliau tidak mempunyai keturunan. Kelak, beliau menikah lagi dengan Maryam asal Supayang yang melahirkan lima anak, termasuk Bachtiar Djamily dan Djamilah Djamil dan Nondeh yang melahirkan Rabi’ah Jamil.

Syekh Muhammad Jamil Jaho kemudian mengajar di Jaho dan di beberapa daerah di Minangkabau. Beliau dalam menjalankan dakwahnya menjalani sebagaimana cara Syekh Jamil Jambek, yaitu dengan mengadakan tabligh di berbagai tempat untuk menyampaikan syiar Islam. Walaupun beliau juga termasuk ulama yang mengadakan pembaharuan atas pola pendidikan surau, tetapi beliau menolak ijtihad yang sebebas-bebasnya, serta bersikap taqlid kepada ulama-ulama terdahulu.

Tahun 1922, beliau bersama-sama Syekh Sulaiman ar-Rasuli dan Syeikh Abdul Karim Amrullah mendirikan Persatuan Ulama Minangkabau dan perguruan Islam Thawalib. Di Jaho, tahun 1924 beliau mendirikan surau dan membuka halaqah pengajian, yang kemudian menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho, yang lalu menjadi bagian dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Dalam organisasi, sebelum dikenal sebagai salah seorang sesepuh Perti, beliau merupakan salah seorang yang aktif dalam Muhammadiyah yang kala itu baru masuk ke Minangkabau , bahkan sempat mendirikan cabang Muhammadiyah di Guguk Melintang. Namun tak ketinggalan lama, beliau keluar dari organisasi ini setelah kepulangannya dari kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan (1927). Sebab disanalah beliau mengenal betul Muhammadiyah.

Syekh Muhammad Jamil Jaho juga mendukung berkembangnya organisasi Muhammadiyah di Minangkabau. Namun, di kemudian hari beliau mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi ini pada kongresnya yang ke-16 di Pekalongan tahun 1927, karena perbedaan mengenai peluang membuka ijtihad dan menolak taqlid kepada ulama.

Disamping masyhur alim dalam kitab, beliau juga merupakan pengamal Tarikat sebagai jalan kearifan Tasawwuf beliau. Dalam hal terakhir ini beliau mewiridkan Tarikat Auliya, sebuah tarikat yang tidak begitu dikenal lebih jauh, namun dapat dijelaskan bahwa tarikat ini bertumpu pada amalan-amalan wirid. Selain itu Syekh Jaho juga dikenal sebagai pendekar Silat yang terkenal.

Dalam hal tulis menulis, Syekh Jamil Jaho termasuk ulama yang produktif. Banyak karangan beliau yang disebutkan, meski kita tidak memiliki data pasti jumlah karya beliau tersebut. Sebahagian tulisan-tulisannya juga banyak termuat di majalah al-Mizan, karena beliau termasuk salah seorang juru tulis majalah, Penasehat keagamaan, tersebut disamping ulama-ulama tua lainnya atau disebut juga kaum tua. Selain menulis dalam bentuk narasi, beliau tampak juga piawai menulis dalam bentuk nazhm ( sya’ir ). Salah satunya yang kita dapati ialah berupa taqrizh (pujian) beliau terhadap kitab Tsamaratul Ihsan -nya Syekh Sulaiman ar-Rasuli, beberapa butir nazhm beliau itu ialah:

Dengan Bismillah pena berlari Alhamdulillah khaliqul Bari Salawat dan salam pula hadiri Atas Muhammad Rasul Jauhari

Begitu kata Muhammad Jamil Negerinya Jaho tempat tak kamil Dengan ilmunya belum lai ‘amil Dosanya banyak dirinya hamil

Wahai sahabat umum dan rata Pada suatu hari datang curita Dari pengarangnya alim pendeta Amatlah pintar fasih berkata

Pengarang mahir amat jauhari Sulaiman ar-Rasuli nama diberi Guru yang alim amat bahari Sudah masyhur antaro negeri.

Seperti itulah pujian beliau kepada syekh sulaiman arrasuli inyiak canduang. Yang dimana Setelah syekh sulaiman arrsuli sahabat dekat beilau yang  mengarang pujian terhadap nabi muhammad saw. Kemudian amatlah bagus cerita yang didapat dan kisah yang diambil pelajarannya.

Syekh Inyiak Muhammad Jamil Jaho wafat pada tanggal 2 November 1940. Beliau banyak meninggalkan kaya berharga yang menjadi pencerah ummat di kemudian hari, di antara karya tulis beliau yaitu Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah, Nujumul Hidayah, as-Syamsul Lami’ah, fil ‘Aqidah wad Diyanah, Hujjatul Balighah, al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful Awsiyah, dan lain-lain. Beliau adalah ulama karismatik yang patut kita tiru dan kita ambil pituah dan nasehat beliau yang berharga.

( M. FADILLAH )

 

 

REFERENSI

 

  1.   Dalam Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Tsamaratul Ihsan fi Wiladati Sayyidil Insan (Bukittinggi: Derikrij Agam, 1923) hal. 90
  2. Syekh Muhammad Jamil Jaho, Tazkiratul Qulub fi Muraqabati Alamal Ghuyub (Bukittinggi: Nusantara, 1956) hal. 54

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *