Terperangkap antara konsumerisme dan perjumpaan seksual yang hambar, cinta hari ini berada dalam bahaya besar. Alain Badiou sebagai salah satu filsuf kontinental yang paling berpengaruh di era modern, mengusulkan visi cinta sebagai petualangan individu untuk menjumpai suatu kebenaran universal dalam hidupnya, Badiou menyebutnya sebagai “pengalaman baru tentang kebenaran.”
Cinta Sebagai Kebenaran
“Cinta yang nyata selalu menarik bagi seluruh umat manusia,” ujar Badiou. “Mengapa ada begitu banyak film, novel, dan lagu yang sepenuhnya diberikan untuk (mengandung) kisah cinta? Pasti ada sesuatu yang universal tentang cinta dari cerita-cerita itu untuk menarik perhatian audiens yang begitu besar,” tambahnya. “Kita tahu bagaimana orang-orang hanyut dalam kisah cinta! Seorang filsuf harus bertanya mengapa itu terjadi,” Badiou menegaskan bahwa bagi mereka yang mengaku sebagai filsuf sepatutnya bertanya tentang cinta, tentang kebenaran universal dibaliknya, dan tentang pengalaman individu ketika menjumpai kebenaran itu.
Cinta Sebagai Konstruksi
Badiou berpendapat bahwa cinta selalu dimulai dengan sebuah ‘pertemuan’, yang ia sebut sebagai ‘suatu peristiwa’ yang bersifat semi-metafisik, atau disebut juga quasi-metaphysical. Namun, tidak berhenti di situ, ia berpendapat bahwa cinta tidak bisa direduksi sebagai pertemuan semata. Pengalaman mencintai harus diiringi dengan sebuah ‘konstruksi’, Badiou mengungkapkannya dengan sebuah ungkapan menarik, bahwa “tentu saja ada ekstasi awal, tetapi cinta adalah konstruksi yang tahan lama.” “Cinta sejati adalah cinta yang berjaya dan bertahan lama, kadang-kadang tahan banting dalam rintangan yang ditawarkan ruang, dunia, dan waktu,” ujar Badiou.
Cinta Sebagai Penyatuan
Menurut Badiou, ketika kita mencintai seseorang, kita selalu dihadapakan dengan apa yang Badiou sebut sebagai ‘perspektif perbedaan’. Dalam cinta, seorang individu melampaui dirinya sendiri, mengatasi sifat narsisistik yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan sebaliknya, ia mulai memusatkan perhatiannya kepada orang yang ia cintai.
Badiou menggambarkannya dengan suatu ‘pengalaman’ menarik, bahwa “ketika saya bersandar pada bahu wanita yang saya cintai, dan dapat melihat, katakanlah, kedamaian senja di atas pemandangan gunung… dan (saya) tahu bahwa wanita yang saya cintai melihat dunia yang sama (denganku).” “Dia dan saya tergabung dalam Subjek unik ini, Subjek cinta, yang berhubungan dengan dunia baru melalui lensa perbedaan kami, sehingga dunia ini tercipta, lahir, alih-alih semua itu hanya memenuhi pandangan pribadi saya (semata),” ujar Badiou.
Badiou berpendapat bahwa “cinta selalu merupakan kesempatan untuk menyaksikan kelahiran dunia. Seorang anak yang terlahir dari cinta, adalah salah satu contoh dari kemungkinan ini.” “Tujuannya (cinta) adalah untuk mengalami dunia dari sudut pandang perbedaan, poin demi poin, dan tidak hanya untuk memastikan reproduksi spesies,” tambahnya.
Badiou mengakhiri bukunya dengan sebuah ungkapan yang menarik, bahwa “dunia ini (adalah) tempat saya melihat sendiri sumber kebahagiaan yang saya rasakan bersama orang lain. “Aku mencintaimu” menjadi (artinya): di dunia ini ada kamu sebagai sumber hidupku. Di dalam sumber ini saya melihat kebahagiaan kita, terutama kebahagianmu.”
Oleh: M. Fadhlan Maulana
Referensi: Badiou, A. (2020). Sanjungan Kepada Cinta (diterjemahkan dari: Éloge de l’amour 2009). Yogyakarta: Circa.
Sumber ilustrasi: https://www.versobooks.com/en-gb/blogs/news/3078-alain-badiou-no-limit