Tak ada awan di langit siang ini. Matahari dengan leluasa menyemburkan panas ke permukaan bumi. Hanya ada semilir angin yang bisa membuat hawa sedikit terasa lebih dingin.
Musim kemarau seperti ini sangat menguntungkan bagi Roni yang menjual es teh dan minuman-minuman dingin di tepi jalan. Tempat strategis yang dipilih Roni membuat warungnya ramai pembeli. Mulai anak kecil sampai orang dewasa mampir ke sana untuk menyegarkan tenggorokan mereka. Roni sampai kuwalahan melayaninya.
“Mas Ron, aku beli es teh 2, dibungkus,” ucap Ratna, tetangga Roni.
“Lakok beli 2 Rat? Kamu habis minum 2 cup teh?” tanya Roni.
“Lho… gak kuminum semua itu Mas. Satunya untuk Salma. Masa iya aku ngabisin 2 cup teh.”
“Ya siapa tau kan… Tapi bisa saja kan kamu ngabisin semua,” ledek Roni.
“Emang aku cewek apaan.” Tatapan sinis Ratna mengarah ke Roni.
Sembari membuatkan teh, Roni melihat temannya Ratna, Salma, yang mondar-mandir di depan warungnya. Roni merasa agak aneh dengan apa yang dilakukan Salma, pasalnya ia menggaruk-garuk tanah menggunakan kakinya, seperti berusaha membuat lubang. Roni meneriaki Salma untuk berteduh dulu di warungnya tetapi Salma hanya melemparkan senyum. Kata Ratna, Salma sedang buru-buru. Dia menahan ingin buang air kecil.
Ratna cepat-cepat pergi setelah ia menerima es teh pesanannya. Ia menghampiri Salma yang masih setia di depan warung dan mengajaknya untuk segera pulang.
Matahari mulai terbenam. Siang akan berganti dengan malam. Sudah waktunya bagi Roni untuk segera membereskan warungnya dan bergegas untuk pulang. Roni membersihkan warungnya, bagian dalam dan depan. Roni terkejut ketika menyapu bagian depan warung menemukan sebuah bungkusan kecil berwarna putih. Ia mengamatinya beberapa saat kemudian ia memasukkan ke dalam sakunya. perasaannya dipenuhi rasa cemas dan khawatir selama perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, Roni cerita kepada ibunya tentang bungkusan kecil berwarna putih yang ia temukan di depan warungnya.
“Mana bungkusan itu, kamu bawa apa nggak bungkusannya?” tanya ibu Roni.
“Ini Buk…”
“Ini kamu tau nggak siapa yang naruh di depan warungmu?” tanya Ibu Roni sambil mengamati bungkusan kecil itu.
“Gak tau Buk. tadi warung rame jadi gak merhatiin sekitar.”
Percakapan Roni dengan ibunya terus berlangsung cukup lama.
Warung Roni hari ini tidak serame kemarin. Memang cuaca tidak sepanas kemarin. Hari ini cuaca sedikit mendung.
Pikiran Roni berkeliaran memikirkan bungkusan kecil yang kemarin ia temukan. Ia mulai menduga jangan-jangan warungnya sepi ada hubungannya dengan bungkusan kecil itu. Roni berusaha menghilangkan pikiran itu, tapi tidak bisa.
Roni menutup warungnya lebih awal karena ia terus kepikiran hal negatif terhadap warungnya sebab bungkusan kecil itu. Rencananya Roni ingin langsung pergi ke rumah pamannya untuk menanyakan hal yang sedang ia alami. Ia ingin meminta bantuan pamannya untuk menyelesaikan masalahnya.
“Warungku hari ini tidak serame kemarin, Paman. Aku terus kepikiran jangan-jangan yang membuat sepi adalah bungkusan kecil putih itu. Bagaimana solusinya Paman?” tanya Roni setelah ia menceritakan masalahnya.
“Jangan berpikiran gitu Ron. Nggak baik,” ucap paman Roni singkat.
“Apa kamu yakin jika warungmu sepi karena bungkusan itu? Sudah Ron. Apa kamu gak ngerasakan kalo hari ini tidak sepanas kemarin? Apa kamu gak lihat hari ini mendung?” tanya paman Roni.
“E… iya Paman kayaknya tadi mendung ketika aku berangkat ke sini,” jawab Roni sambil menggaruk kepalanya.
“Iya juga ya. Kan hari ini tidak sepanas kemarin, otomatis yang beli di warungku kan juga tidak serame kemarin yang panasnya pol-polan,” gumam Roni dalam hati.
“Yaudah Ron. Lupakan saja. Aku akan berusaha membantu.” Jawaban paman Roni yang membuat Roni lebih tenang.
Roni pulang ke rumah setelah selesai urusannya dengan pamannya. Ia sebenarnya mendapat banyak nasihat dari pamannya tapi entahlah ke mana larinya nasihat itu setelah sampai rumah. Ia hanya mengingat, tidak perlu dipikirkan masalah bungkusan kecil putih. Ia langsung merebahkan dirinya ketika sudah sampai kamar. Ia merasa sangat capek, mungkin karena pikirannya yang tidak bisa dikontrol.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti hari biasanya. Tidak ada yang aneh dengan warung Roni.
Siang ini, Roni menutup warungnya lebih awal karena dagangannya sudah habis. Ia langsung pulang ke rumah untuk istirahat. Ia pulang melewati jalan yang biasanya dilewati. Ia heran ketika sampai depan rumah Salma, ia melihat banyak orang di sana. Ia mendekati gerombolan orang dan menemukan Ratna ada di sana.
“Ada apa Rat, kok ada rame-rame seperti ini?” tanya Roni.
“Gak ada apa-apa, Mas,” jawab ratna dengan wajah yang menunduk.
“Gak ada apa-apa kok rame? Biasanya gak serame ini kalo aku lewat sini,” ucap Roni.
Ratna diam. Tidak menjawab.
Roni tanya kepada salah satu orang. “Ada apa, Pak?”
“Itu Ron… tadi si Salma gak sadar diri. Dia jalan-jalan muter kampung ga pake baju.”
“Lakok bisa?”
“Gak tau juga Ron.”
Roni tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Ia tidak ingin memikirkan lebih dalam. Ia memutuskan langsung pulang. Sesampainya di rumah, ada pamannya di ruang tengah.
“Gimana Ron dagangannya? Tumben udah pulang,” tanya paman Roni.
“Aman paman. Alhamdulillah hari in rame. Sudah habis semua. Oh iya paman, tadi aku liat gerombolan orang di depan rumah Salma. Katanya sih Salma jalan muter kampung ga pake baju,” jawab Roni.
“Nah itu Ron. Dia yang ngirim bungkusan itu ke warungmu.”
Malam harinya, Ratna datang ke rumah Roni. Ia menceritakan kejadian ketika ia beli es teh bareng Salma waktu itu. Ratna berterus terang kalau sebenarnya ia disuruh Salma untuk menemani beli di warung Roni. Ratna tahu kalau Salma tidak hanya mondar-mandir di depan warung saja tetapi Salma juga menaburkan tanah kuburan dan melemparkan bungkusan kecil berwarna putih. Ratna dimanfaatkan oleh Salma karena Ratna tetangga dekat Roni.
Ratna meminta maaf atas kejadian itu. Ratna juga meminta kepada Roni agar memaafkan Salma.
(agus)